Merunut dari mana asal nyontek??..
Sebenarnya adat nyontek itu dari siapa?saya juga bingung sebenarnya,karena dari saya kecil tepatnya ketika duduk dibangku sekolah dasar saya sudah belajar untuk mengenal arti nama”mencontek”.. Mencontek dari hal paling kecil saja yaitu mencontek kerjaan rumah. Saya ingat waktu saya kecil,saya tidak pernah dibiarkan oleh ke3 kakak saya membuat pr disekolah,terlebih kedua orang tua saya. Saya disuruh mengerjakan dirumah. Oke!saya terima didikan itu dari kelas 1 sd sampai kelas 2 sd, tapi menduduki bangku kelas 3sd yang udah bangga karena nulis dibuku udah disuruh pakai pena disitu kebiasaan muncul,malas membuat pr dirumah,tapi tetap saja bagi kedua orang tua saya pr harus kerjakan dirumah..oke,masih saya kerjakan dengan meminta bantuan dari ke3 kakak saya,,disitu berbagi kerjaan untuk mngerjakan dan membimbing saya. Dari uni saya,selalu dia mengajarkan materi berbau ipa,kakak laki2 pertama saya mengajarkan tentang menulis huruf tegak bersambung dan menggambar, kakak laki2 saya ketiga mengajarkan menulis rapi tepatnya dalam belajar mengarang dengan tulisan yang rapi dan indah. Tapi untuk matematika,hanya sang maestro matematika dirumah sayalah yang bisa mengajari saya dia adalah “papa” saya. Ya,itu masa dimana saya duduk di bangku SD yang saya selalu ingat bisa dikatakan sangat jarang saya ,membuat pr disekolah.
Kemudian lanjut dibangku SMP, disini sudah menduduki masa2 “ya,aku seorang remaja”,tpi mugkin itu bagi kebanyakan orang,tapi saya?tidak..tidak semudah itu untuk mengatakan hal demikian. Dididik dengan kesederhanaan dan panutan dari kakak2 yang selalu memberikan saya pedoman bahwa sekolah tidak boleh nakal,jadi anak smp ngak boleh centil,kerjaan hanya belajar, karena ya memang harus diakui masa saya sekolah banyak kejadian kriminal yang sering terjadi di kalangan anak smp dan sma. Tapi dengan adanya super protektif dari kedua orang tua saya dan ke3 kakak saya, sepertinya masa kelas 1smp masih seperti saya rasakan layaknya kelas 6sd. Bedanya hanya seragam dan saya diperbolehkan untuk ikut ekskul. Ya,,happy..tapi mgkin tidak terlalu bebas layaknya teman2 yg lain. Tapi kemudian saya berpikir kapan saya bsa menikmati masa smp dimana udah berbeda dari segi seragam dan tingkat. Saya di sekolah lebih berani untuk mengungkapkan bahwa saya mampu dikelas. Saya belajar,tapi saya juga sering bermain dan ikut “dance” dengan teman2 saya dikelas, sampe lupa kebiasaan saya untuk mengerjakan pr dirumah. Dari situlah saya tau bahwa saya udah smp bukan anak sd lgi. Mungkin memang salah pnya pemikiran hal sprti itu,tapi itu lah saya dimasa smp. Ditambah saya smp ditinggalkan kedua ka2k saya satu uni dan kakak laki2 pertama saya yang kuliah diluar sehingga niat untuk mngerjakan pr pun malas rasanya dirumah.. Tapi kembali lagi untuk belajar matematika dan mengerjakan pr dirumah bila soal mtk itu tidak akan pernah tertinggal dari jadwal belajar saya karena ya itu tadi sang master matematika dirumah adalah “papa” saya yang selalu bertanya ada pr mtk ato ngak.. Ya saya ngak boleh bohong *itu ajaran ketika saya madrasah tepatnya..lanjut ke tingkt kelas 2smp dan 3smp. Kegiatan mngerjakan pr dirumah berkurang tapi saya tidak ingin hanya berpatokan jika mengerjakan pr dirumah tidak bisa menghasilkan hasil yang baik. Saya buktikan dengan mendapat rangking 2 diwaktu kls 2smp, saya belajar disana untuk membuktikan bahwa saya bisa tanpa bantuan dari ke3 kakak saya karena saya belajar bahwa saya akan berusaha sendiri nantinya ketika saya akan melanjutkan tingkat kuliah,,*ditambah keinginan saya kuliah diluar dari daerah saya dan jauh dari ortu. Ya,itu saya jalani sampai di masa sma. Ternyata tidak jauh beda tabiat tmn2 smp dan sma. Mencontek,mengerjakan pr disekolah sepertinya sudah menjadi tabiat. Dan tidak dimunafikkan lagi,itu sudah ada dari berbagai teman2 saya yang beda sekolah dan bertemu di satu kelas pada sma.
Di sma, saya mulai belajar kembali untuk serius, karena memang saya adalah tipekal orang yang selalu ingin belajar mmperbaiki diri untuk tiap harinya. Dan itu tetap saya pegang teguh dari awal. Ketika itu,saya belajar bahwa saya harus bisa masuk jurusan yang membuat saya dapat lancar mencapai cita2 saya,dan sekalian memang keinginan dari ortu saya untuk bisa masuk kesistem penjurusan ipa. saya dikelas 1 belajar dengan serius,sampai saya dikelas menjadi acuan bagi teman2 saya untuk mencontek dari pr,sampe pada saat ujian. Tapi tidak sebegitu rajinnya saya sampe saya menjadi acuan mereka,saya pun juga terkadang memberanikan diri untuk bertanya pada mreka,ya walaupun ujung2 ny saya hrus yakin pada jawaban yang saya jawab.
Menduduki bangku kelas 3,itu adalah penentuan bagi saya untuk bisa masuk universitas yang saya inginkan. Dan saya mesti belajar lebih ekstra lagi. Beruntung nya saya dapat teman yang bisa membimbing saya untuk belajar.*dan ternyata berhasil saya kembali menjadi seorang anak sd yang dulu selalu mengerjakan pr dirumah*ya ngak semuanya sech,disekolah juga ntar bakal nyontek pr teman juga tapi setidaknya yang saya selesaikan dirumah dan bekerja kelompok dengan teman saya adalah hampir 80% dari total pengerjaan pr itu, dan saya tinggal melengkapi jawaban tersebut disekolah sekitar 1 soal. Bahkan tidak jarang saya mengerjakan nyaris semua soal dengan baik dirumah. Senang,pasti!! Dan saya cukup diperhitungkan dikelas dengan mendapatkan hasil yang baik pada ujian, tapi memang tidak menutup kemungkinan pada saat ujian adegan mencontek khas untuk dilihat. Tapi saya juga kembali belajar bahwa ternyata mencontek itu sudah ada dari kita sekolah. Duduk dibangku sekolah.Itu adalah suatu ciri khas anak sekolah.*katanya. Tapi itu sebenarnya dapat dihilangkan dengan siswa yang selalu belajar dan mengulang pelajaran dirumah,,*tapi ya balik2 lagi,jaman sekarang..jangankan belajar dan mengulang dirumah,,buku pelajaran aja syukur2 ada tulisan catatan..*may be..
Ketika saya duduk dibangku akhir sekolah,itu tetap terjadi di lingkungan sekolah.ya mencotek,bahkan yang lebih parah tidak sedikit yang saya temukan melihat teman saya membuka buku pada saat ujian.*menakutkan..Tapi lagi2 dengan prinsip “asal tidak ketahuan ya ngak masalah”.hmm..
Lucu dengernya,tapi ya mau gimana lagi hasil itu juga nantinya dinikmati bersama2 dengan teman sekelas, *meskipun yang dinikmti itu adalah dosa..
Masuk universitas, dengan sistem pembelajaran yan sudah sangat beda drastis dari sma. Dari makul,jurusan,teman,tabiat,prilaku,cara belajar pun sepertinya harus di reshuffle..
Tapi sampai saat ini saya menulis note ini,saya yang duduk disemester 5 yang menuggu 2 mnggu untuk msuk ke semester 6 saya masih melihat dan merasakan *bahkan memang melakukan hal yang namanya mencontek tidak lepas dari namanya ujian,tugas, bahkan yang lebih extrem pada saat prktikum pun dapat melakukan tindakan yang mengerikan yang beresiko tinggi, meminjam hasil kerja temen untuk dpt di acc.. Ya itulah fakta dari mahasiswa. Bahkan dari sd,smp, sma. Tindakan curang,mencontek, melihat buku, bahkan membuat catatan kecil untuk dapat dilihat pada saat ujian itu sudah kebiasaan dari peserta didik di indonesia. Saya tidak bermaksud untuk megeneralisasikan semua para peserta didik,tapi saya mengalami hal ini dari saya kecil, duduk dibangku sd,sampe dibangku kuliah.saya akui,saya pun melakukan hal yang sama. Tapi saya cukup berani untuk mengacungkan dua jempol pada peserta didik baik siswa,pelajar, mahasiswa yang selama ia duduk mencari ilmu baik disekolah,universitas, sekolah tinggi yang tidak pernah mencontak,dalam kegiatan dya sekolah mencari ilmu. Sungguh ilmunya sangat berkah dan saya iri bahkan dengan orang yang “TIDAK PERNAH” mencontek dalam hidupnya ia menuntut ilmu. pertanyaan nya berapa banyak ada orang seperti itu?saya hanya berdoa semoga saya bisa belajar dan mngmbil hikmah dari orang itu bila saya diijinkan untuk bertemu dengan orang sperti itu.. *amin..
Selesai..

Advertisements