14 Februari 1991 – 14 februari 2012..

Malam sekitar 21.00 wib tanggal 14 februari 1991 seorang ibu berjuang mempertaruhkan nyawa demi seorang anak yang Allah swt titipkan pada ibu tersebut. Ibu itu mempertaruhkan nyawa dan jiwa demi sang anak tersebut dengan hanya mengharapkan ridho Allah swt untuk melancarkan proses persalinannya secara normal. Dengan terus membasahi lidahnya dengan ucapan dzikir ibu tersebut terus mengerang kesakitan di malam itu..
Tidak lama setelah itu, sang anak terlahir dimuka bumi secara normal dan menangis sekencang-kencangnya,, ibu tersebut tersenyum lega dan bertanya pada bidan.

Ibu : “ Lengkap atau Cacat bu?”
Bidan : “ Lengkap bu, Alhamdulillah”
Ibu : “Perempuan atau laki-laki?”
Bidan : “Alhamdulillah, perempuan bu.. selamat ya bu “

Sedikit banyak seperti itu lah percakapan ibu tersebut setelah melahirkan..
Mendengar bahwa anak bayi yang lahir tersebut adalah seorang perempuan senangnya bukan main ibu tersebut terutama juga ayah dari bayi itu. Karena selama ibu itu hamil, ayah sang bayi tersebut Sholat Tahajud untuk menginginkan seorang anak perempuan sebagai anak terakhir dari 4 orang anak nya. Berasa lengkap dan sempurna kehidupan suami istri tersebut memiliki anak 2 orang Laki –laki dan 2 orang Perempuan.

Sekarang tugas dari kedua orang tua tersebut merawat dan mendidik bayi itu dengan Agama, Cinta, Kasih sayang dan Pendidikan yang baik. Bayi perempuan itu hadir dengan menjadi seorang adik bungsu dari 3 orang saudara kandungnya yang begitu menyayangi dan mencintai nya sampai saat ini. Bayi perempuan dahulunya belum diharapkan sang ibu karena sang ibu merasa jarak antara sang bayi dengan saudara ke tiganya terlalu dekat,jarak 5 tahun dirasa masih belum cukup mengerti akan hadirnya seorang adik, apalagi saudara kandungnya sangat dimanja oleh seluruh sanak saudara, paman dan bibi nya. Tapi, Allah swt berkata lain, rezeki memang tak bisa ditolak. Bayi ini hadir, dan mau tidak mau saudara bayi tersebut harus belajar untuk menyayangi dan menjaga bayi perempuan tersebut yang tidak lain adalah adik kandungnya sendiri. Dari cerita ibu bayi perempuan itu sang kakak sulit untuk menerima, tapi seiring berjalan nya waktu cinta itu hadir, sayang kepada adiknya mulai tumbuh. Meskipun ada suatu accident yang membuat seluruh isi rumah cemas dan takut meninggalkan bayi perempuan tersebut dengan kakak laki-lakinya karena suatu ketika bayi tersebut sedang berada di buaian bayi, sang kakak laki-laki itu mendorong buaian dengan kuat sehingga membuat anak bayi itu jatuh. Hal itu membuat sang ibu dan ayah dari bayi tersebut takut bila harus meninggalkan mereka berdua sendiri tanpa adanya pengawasan yang ketat.
Dan tidak butuh waktu yang lama, pada akhirnya kakak laki-laki bayi itu mengerti bagaimana mencintai adik dan menyayangi nya sebagai seorang adik kandung yang memang harus dijaga dan disayang.
Berjalannya waktu, bayi itu dididik dengan Agama sesuai dengan syariat Agama Islam. Anak kecil itu berumur 4 tahun telah dimasukkan ke TK Islam Al-Azhar yang menjadi pendidikan formal anak tersebut. Sedari kecil telah mengetahui dan membiasakan diri dengan menutup aurat tiap hari jum’at dan mempelajari mana yang wajib dan sunnah dari agama Islam. Memasuki Sekolah Dasar, anak tersebut tidak dibiarkan saja dengan belajar formal di Sekolah Dasar Negeri yang mempelajari pelajaran secara umum, termasuk juga Agama Islam. Dan sedari kecil itu juga waktu anak tersebut diisi untuk mengikuti Madrasah Ibtidaiyah yang lebih menekankan ilmu fiqih, bahasa arab, sejarah islam, dan lain sebagainya. Tidak lupa untuk menjadwalkan waktu sang anak tersebut dengan Mengaji dirumah dengan diawasi sang ibu dan ayah nya. Bersama ke 4 saudaranya mengaji bersama, mengkhatamkan al-quran bersama menjadi hal yang rutin tiap harinya.
Dan tidak lupa dari kecil sang ayah menanamkan hal yang patut untuk ditanamkan dari setiap anaknya yaitu “Tanggung Jawab, Prinsip, dan Kerja Keras”. 3 hal itu ditanamkan pada tiap anaknya tanpa terkecuali karena bagi sang Ayah itu modal bagi mereka nantinya setelah mereka lepas dari ayah dan ibu mereka. Dan benar sekali, beranjak dewasa hal itu menjadi hal yang penting dan dipakai dimanapun.

Tidak seperti anak-anak lain, kehidupan anak perempuan tersebut beserta saudara-saudaranya tidak diberikan fasilitas kemewahan dari ayah dan ibunya. Mereka diajarkan untuk belajar hidup sederhana dan menghargai dari setiap apa yang diberikan dari orang lain. Anak tersebut dngan 3 orang saudaranya diajarkan bagaimana cara untuk menabung dan belajar untuk menjaga barang sendiri. Dengan membeli perlengkapan sekolah menggunakan biaya sendiri dari hasil tabungan uang jajan sehingga dapat membeli barang yang sesuai kemauan sendiri. Sikap ini ditanam sedari kecil, menabung dengan uang jajan sendiri dan beli barang sesuai dengan uang yang telah ditabung menjadikan ibu dan ayah itu merasa bangga karena sedikit demi sedikit hal kecil seperti ini pada akhirnya akan menjadi berguna bagi sang anak nantinya. Meskipun berasal dari keluarga yang bisa dikatakan Mampu dan Berkecukupan tapi ayah dan ibu dari anak tersebut tidak pernah untuk mengajarkan berfoya-foya dan mengikuti semua kemauan anak tersebut secara cepat dan singkat. Hal ini untuk mengajari bahwa semua itu butuh PROSES tidak secara instan.
Beranjak remaja, anak perempuan tersebut benar-benar berada diprosos mencari jati diri. Beberapa kejadian yang membuat anak tersebut pernah membuat ayah dan ibu nya kecewa, meskipun tidak juga sedikit ada beberpa hal yang membuat ayah dan ibu nya bangga. Yah, ibu anak tersebut sadar anak perempuannya berada dalam fase yang bila sedikit saja salah akan fatal akibatnya. Tapi, tidak untuk anak itu. Anak perempuan itu memiliki pemikiran yang berbeda. Meskipun teman-teman dari anak tersebut berlaku layaknya anak remaja yang masuk dalam kategori mencemaskan tiap orang tua, anak perempuan itu memikirkan bagaimana memanfaatkan waktu nya menjadi bermanfaat. Dan benat, anak perempuan yang bisa dikatakan manja pada ayah dan ibunya memilih ekstrakurikuler “ Karate” disekolah nya untuk mengisi waktu nya, meskipun ayah dan ibunya kurang menyetujui pada akhirnya anak tersebut diperbolehkan dengan mengikuti satu syarat bahwa “prestasi” sekolah tidak boleh turun. Dengan menyetujui hal itu, anak itu mengikuti ekskul yang membuat lama kelamaan “sikap tomboy dan cuek serta simple” tercermin dari anak tersebut. Tapi,hal itu tidak terlalu lama bagi anak tersebut, sang ayah menyuruh untuk memberhentikan ekskul “Karate” nya yang diketahui oleh anak tersebut harus berhenti ketika ujian naik tingkat sabuk akan berlangsung, meskipun telah berkompromi kepada sang ayah untuk mengikuti kenaikan tingkat kemudian anak tersebut akan berhenti tapi sang ayah tidak memperbolehkan kejadian itu. Dan pada akhirnya anak itu benar-benar harus berhenti dan keluar dari ekskul yang sangat ia minati itu.
Memasuki bangku Sekolah Menengah Atas, anak itu menjadi gadis yang memiliki beberapa perencanaan dari orang tuanya. Anak itu memiliki background dari keluarga yang selalu membuat perencanaan dari rencana anggaran biaya sekolah dan juga perencanaan sekolah dan target penyelesaiannya. Dikarenakan sang Ayah adalah seorang wiraswasta dan seorang kontraktor yang belajar semua hal itu butuh perencanaan,, dari segi apapun. Karena bila suatu perencanaan tidak dibuat seakan hidup hanya bayang-bayang dan dijalani dengan standar dan biasa tanpa ada GOAL yang dicapai dengan baik.
Anak tersebut pun telah mengatakan bahwa ia akan masuk dalam jurusan ilmu eksakta karena keinginan anak tersebut untuk masuk dalam jurusan teknik arsitektur mengikuti jejak dari sang kakak laki-laki yang kedua nya. Sayang, keinginan ayah dan ibunya menginginkan anak perempuan tersebut menjadi seorang tenaga kesehatan, baik itu perawat, bidan, kesehatan masyarakat apalagi keinginan terbesarnya melihat anak perempuan tersebut menjadi seorang dokter. Bila diambil dari mimpi dan cita-cita anak perempuan itu sedari kecil anak itu memang sangat ingin menjadi seorang “DOKTER GIGI” tidak yang lain, dalam pemikiran anak tersebut hanya ingin menjadi “DOKTER GIGI” tidak yang lain. Tapi keinginan itu berubah ketika masuk dalam sekolah menengah atas, karena ia melihat Arsitektur layaknya jurusan yang diambil saudara kedua nya adalah jurusan yang menyenangkan dan membuat orientasi anak perempuan itu panjang. Bagaimana dan akan kemana yang akan dia pilih nantinya agar menjadi seorang arsitektur, meskipun sang kakak akan menjadi arsitektur pula.
Ya, melihat kerasnya gadis tersebut ingin menjadi seorang arsitek layaknya kakak laki-lakinya. Sang ayah yang tidak ingin anak tersebut hanya memilih berdasarkan penglihatan tanpa melihat isi dalamnya, sang ayah memberikan satu persyaratan untuk dapat meyakinkan bahwa bila benar sang anak tersebut ingin memilih arsitek, gadis tersebut harus memahami buku “politeknik “ yang dimiliki oleh sang ayah yang menjadi pegangan ayah dan kakak laki-laki nya selama kuliah di jurusan arsitektur, gadis tersebut harus memahami dan menunjukkan serta menjelaskan pemahamannya mengenai rumus fisika, matematika, dan lain sebagainya. Sontak melihat hal itu anak itu menjadi diam dan mundur secara teratur. Dengan masukan yang diberikan oleh sang Ayah anak itu memahami bagaimana rasanya menjadi seorang arsitek dan yang bergerak dalam bidang teknik tidak segampang dan seringan yang tampak dari luar.

Ayah : “kenapa kamu ingin banget jadi arsitek? Kan abang kamu sudah masuk jurusan arsitek…”
Anak : “ pokoknya pengen aja, kan dia arsitek bangunan gedung, kalo aku pengennya arsitektur landscap yang di bidang taman “
Ayah : “sama ajaa.. kenapa gak nyoba dokter ato dokter gigi sesuai cita-cita dari kecil?”
Anak : “diam,,sembari memikir..”

Selama masa SMA anak itu benar-benar harus berpikir jernih jurusan apa yang akan dipilih ketika ujian SNMPTN datang, karena ini adalah akhir dari tujuan yang selama ini diimpikannya. Melihat sang ibu sangat mengharapkan gadis itu menjadi salah satu tenaga kesehatan, gadis itu belajar dan menunjukkan tekad dan kerja kerasnya untuk mengambil jurusan “kedokteran gigi” sebagai cita-cita dan impiannya sedari kecil yang akan diwujudkan. Dan benar, dengan diiringi doa dan cinta kasih dari ayah, dan ibu serta dukungan dari ketiga saudaranya untuk menjadi seorang dokter gigi anak tersebut berhasil membuat impian dan keinginan ibu dan ayahnya menjadi kenyataan. Menjadi mahasiswi keodkteran gigi sesuai yang diharapkan dan orang tua nya dan membuat impian serta cita-cita kecilnya terwujud.
Saat ini, gadis tersebut menjadi perempuan dewasa. Bayi perempuan yang lahir jam 21.00 wib tersebut sedikit banyak telah membuat ayah dan ibunya bahagia. Kemandirian, kedewasaan yang sedikit demi sedikit diperlihatkan gadis itu membuat ayah dan ibunya bahagia.

21 tahun telah gadis itu hidup dengan cinta, kasih sayang dari orang tua nya dari ayah dan ibunya yang ia panggil “mama dan papa”. 21 tahun juga anak itu belajar bagaimana mensyukuri umurnya yang terus bertambah dan belajar di tiap umurnya menjadi orang yang bermanfaat bagi agama nya, bagi kedua orang tuanya, ketiga saudaranya, teman-temannya, orang-orang yang berada disekitarnya dan negaranya.
21 tahun pula anak itu hidup dengan cinta dan nikmat dari Allah swt, hidup dengan perintah Allah swt, hidup dengan tuntunan Rasulullah saw, dan hidup dengan kasih sayang yang berlimpah dari kedua orang tuanya.

Ma,terima kasih telah berjuang untuk kehadiran memi di dunia ini, terima kasih telah menjadi malaikat penjaga untuk memi..
Pa, makasih untuk keringat, kerja keras, dan hal-hal baik yang papa tanamkan untuk memi. Makasih untuk keprotektifan papa ke memi, bahkan sampai diumur 21 tahun..
Uni, Bang Al, Bang Adi,.. makasih yang udah siap selalu ada selama 21 tahun menjadi tempat berbagi pengalaman kuliah,, sekolah dan lain sebagainya. Terima kasih memberikan kesempatan memi menjadi adik bungsu kalian. Dan terima kasih untuk semua perlindungan dan cinta serta perhatian untuk memi sang bungsu yang manja nan cengeng..
I love you all..  dan anak itu bernama RIVEMI GUSYANTI..

21 years old now
Advertisements