Dimana keceriaan itu?? Kembalikan..

Seakan saat ini hanyalah seperti setangkai bunga mawar yang indah. Terlihat dari kejauhan diujung taman mawar merah indah, mekar, dan harum wanginya akan tetapi tidak disangka ketika mengambil atau hanya melihat mawar tersebut ternyata mawar itu terlihat penuh akan duri, dan dilihat lebih telaah lagi ternyata daun mawar itu telah banyak digrogoti dengan ulat-ulat si pemangsa sari bunga. Tidak ada lagi pemandangan yang indah dimana kumbang-kumbang mengelilingi, menyerbu si mawar indah. Bahkan harum yang semerbak sepertinya hanya tipuan belaka yang mungkin bukan berasal dari wangi mawar nan indah tersebut, melainkan mungkin adanya beberapa buket bunga melati, anggrek, dan bunga lainnya. Tapi tidak dengan bunga mawar itu. Bunga mawar itu hanya mampu terlihat indah dari kejauhan, dari pandangan yang tidak dapat dijamah. Indah hanya diluar tapi berduri didalam dan begitu banyak lobang-lobang yang ada didaun-daun dari tangkai mawar karena si ulat.

Iman, keluarga, persahabatan dapat dijadikan perumpamaan layaknya mawar. Mawar yang indah dari kejauhan dan terlihat hancur, perih, dan sakit didalam. Iman yang mampu hanya diucapkan pada bibir saja itu memang indah dan menyejukkan, tapi apakah didalam hati iman dapat layaknya air yang menghilangkan dahaga? Apakah iman telah mendapat posisi teratas dan tertinggi dihati serta dipikiran? Apakah iman mampu mengalahkan semua hal yang berbau duniawi dan menggiurkan? Apakah iman telah harum didalam jiwa? Saat ini sepertinya sebagai manusia hendaknya menghiasi sudut dinding kamar dengan kaca yang bening, membiarkan pantulan diri sebagai cerminan untuk perbaikan diri sebagai manusia yang harus memiliki iman yang hakiki kepada sang Illahi. Hanya pada sang pemilik bumi dan langit. Jangan biarkan iman layaknya mawar yang layu, yang telah banyak digrogoti dengan ulat-ulat yang busuk, ulat-ulat yang bau, dan ulat-ulat yang sama sekali tidak memberi manfaat dan tidak mengindahkan si mawar.

Keluarga, bukankah menuliskan kalimat tersebut membuat kebahagian dan kedamaian yang terasa? Layaknya iman, keluarga membuat seseorang ada, keluarga yang memberikan identitas kehidupan, mengarah pada kejelasan status hidup, dan keluarga membentuk pencetus-pencetus pemimpin yang mampu mengoyahkan dunia. Dunia yang terkadang kelam, suram, dan tidak mampu ditelusuri karena ternyata kehidupan begitu pahit. Pahit bagi siapa?? Bagi orang – orang yang merasa bahwa dia tidak memiliki keluarga. Di keluarga satu kata ayah, satu kata ibu, adik, kakak, dikenal bukan dijalanan dan bukan ditempat – tempat umum kata-kata itu keluar. Dan satu kata itu juga yang mampu diucapkan pertama kali dari seorang manusia sempurna. Menandakan keluarga menempati urutan yang tidak main-main dalam kehidupan, kalau tau begitu kenapa masih banyak saja manusia-manusia yang telah menjadi hebat, menjadi pemimpin berbagai bidang melupakan keluarga? Menyakiti keluarga ? apakah lupa bahwa di keluarga, cinta, kasih sayang, perhatian, perlindungan, keihklasan, dan pengorbanan diperlihatkan begitu nyata tanpa sensor sekalipun. Kenapa? Kenapa masih saja anak yang menyakiti hati ibu? Kenapa masih saja ada anak yang mengecewakan ayah? Nyawa dipertaruhkan sang ibu, cucuran keringat yang dikeluarkan ayah. Apa belum cukup pembuktian itu wahai anak??? Apa kau cukup hebat dan cukup mampu menggantikan atau menjadi mereka?? *tamparlah diri sendiri* bila merasa sebagai anak telah terlalu banyak menyakiti hati keluarga mu.. kelak posisi ibu, posisi ayah akan turun sebagai tahta berharga bagi diri kita, dan kembali pasanglah cermin diberbagai sudut ruang untuk mengetahui apakah pantas kita menyebut diri menjadi sosok ibu bila kita sebagai anak perempuan masih menyakiti ibu, masih sering bertengkar dengan sang ibu, masih sering memberikan tetesan-tetesan deras air mata kekecewaan sang ibu, masih sering membiarkan waktu terbuang dengan percuma tanpa ada disamping ibu yang ternyata lebih dibutuhkannya. Apa masih pantas mendapat julukan sang ayah bila kita sebagai anak laki-laki yang masih membangkang dengan sang ayah, mempermalukan sang ayah, melupakan prinsip dan tanggung jawab yang diwariskan sang ayah, memberikan tumpukan hutang kita kepada ayah, menghabiskan uang keringat ayah dengan percuma?? Kembali, pasang cermin disudut ruang agar kita tersadar dan merasa kembali untuk *tertampar* dengan keadaan seperti ini. Sungguh ironis jika terjadi pada kehidupan seseorang.

Persahabatan yang terlihat dari pandangan orang-orang layaknya sebutan “friend forever”! memalukan rasanya bila tahu bahwa persahabatan tidak “se forever” yang dimaknai, yang diumbar, dan yang dielu-elukan. Persahabatan tidaklah harus selamanya, tapi persahabatan berlangsung selama kita hidup. Sahabat dan teman memiliki porsi dan posisi yang berbeda. Sahabat memiliki posisi yang berada setingkat dari teman, dan sebutannya pun juga berbeda. “friendship never end”, tapi sahabat dan teman sama –sama memiliki point penting dalam jantung kehidupan. Manusia terlahir memang sendiri tapi setelah menghirup 1 detik nafas dia telah ditakdirkan untuk memiliki teman. Teman dan sahabat mampu menjadi sebuah keluarga. Kembali lagi, bila teman dan sahabat ternyata memiliki duri didalamnya ibarat mawar yang yang terlihat indah dari jauh tapi menyakit didalam. Sakit yang luar biasa didalam suatu pertemanan seakan mampu menghisap semua kebahagiaan dan keceriaan. Seakan janji yang telah terucap semua hilang dan tidak mampu kembali. Keceriaan itu lenyap dan hanya sunyi serta sepi yang tercipta. Sakit yang terlanjur tergores karena tusukan dari kalimat, sikap, dan sifat. Sungguh, ironis. Teman dan sahabat adalah keluarga kedua.

Semuanya butuh keikhlasan, pencerahan, dan kejernihan pikiran menghadapi semua. Semua yang harus diperbaiki dalam iman, dalam hubungan keluarga dan dalam hubungan persahabatan. Setidaknya usaha dari sebuah cermin untuk memberikan pantulan gambar diri ini mampu membuat otak dan jiwa aberpikir bahwa kehidupan yang baik dari tiga hal tersebut adalah proses perbaikan diri. Agar iman tetap kuat, tetap selalu di refresh, diperbarui, semakin bertambah. Agar keluarga mampu memberikan keharmonisan dan kebahagiaan serta kesejukan didalamnya. Agar persahabatan dan pertemanan menjadi tidak aneh, menjadi sehat dan menjadi keluarga kedua dimanapun berada. Proses yang menjadikan tiga hal tersebut mampu menuntun kearah yang lebih baik. Semoga,..