Jum’at malam 12 Oktober 2012 merupakan malam dimana aku menyadari bahwa aku tidak boleh dan harus keluar dari yang namanya sikap “memungkiri takdir” takdir yang kumaksudkan disini adalah takdir bahwa “kenyataannya ada sosok laki-laki yang datang dikehidupan ku sebagai seorang sahabat yang pada akhirnya mengungkapkan perasaan sayang kepada ku lebih dari seorang sahabat,atau perhatian dan sikap yang tidak semua junior dapat dari seorang senior dan aku memungkirinya dengan beranggapan bahwa senior wajar seperti itu kepada junior meskipun sudah banyak orang mengetahui bahwa kondisi tidak seperti yang ku katakan  dan masih ada beberapa hal yang terjadi yang ku buat untuk memungkiri nya”. Karena hal ini lah teman dekat ku berkata bahwa aku sangat suka “memungkiri takdir” terutama takdir yang seperti ini. *entah itu hanya sebuah lelucon belaka atau memang begitu adanya. Aku tidak akan memasukkan itu kedalam hal prioritas ku.

Sikap itu selalu berkembang dan menetap sepertinya didalam diriku sampai pada akhirnya di tanggal 12 oktober 2012 di jum’at malam. Kamu “mr.X” memulai percakapan dengan “BBM” yang entah mengapa selama percakapan itu muncul percakapan yang mengatakan bahwa bagaimana kamu mencari tahu informasi mengenai ku, siapa yang sedang berusaha mendekatiku, dan apa yang sedang kulakukan dan masih ada lagi. Dan lebih membuat ku terkejut adalah engkau mengatakan bahwa kau mulai tertarik dengan ku di tanggal 28 Januari 2011. Betapa terkejutnya aku mengetahuinya. Bagaimana tidak, dalam kondisi selama itu sudah ada wanita yang engkau dekati serta menjajaki proses layaknya orang yang ingin mulai penjajakan. Dan aku? di lain sisi aku telah memilih seseorang “Dia” , dia yang berada di seberang pulau sana telah menjadi kunci magnet bagi mata dan hati ku untuk menjadi “Secret admirer”. Dengan keadaan itu aku yakin bahwa aku dan kamu tidak akan pernah ada cerita yang lebih lanjut mengenai sebuah perasaan yang lebih dari seorang teman.

Betapa polosnya diriku mungkin selama itu, aku tidak menyadari bahwa setiap tingkah laku mu yang membuat ku sering sekali jengkel dengan seluruh tingkah dan sikap mu yang menjadikan aku korban lelucon mu, dan betapa memuakkannya aku ketika lelucon mu menjadi pertanyaan beberapa dosen terhadapku. Serta tidak sedikit hal yang membuat ku memasukkan namamu kedalam list orang yang akan ku tunjukkan bahwa aku mampu untuk bisa menunjukkan bahwa lelucon mu yang tidak berbobot itu hilang seiring dengan hal-hal baik yang mampu ku berikan pada kampusku. Sungguh, pada saat itu aku merasakan bahwa kenapa aku yang menjadi korban lelucon mu yang terkadang menyinggung, dan terkadang membuat ku “malas” untuk berkomunikasi layaknya teman biasa dengan mu. Dan jum’at malam itu semua terkuak, bahwa kamu melakukannya untuk mendapatkan perhatian dari ku, dan selama itu pengakuan yang mengatakan bahwa kau menentang perasaan suka itu terhadapku, dan dengan cara kau menyukai seseorang yang lain dan dengan leluasa menunjukkan hal apa saja yang akan kau lakukan untuk prosesi penembakan wanita yang kau suka, atau lebih tepatnya wanita yang menjadi tempat penentangan hati mu karena kau menyukai ku.

Ya, sepertinya dari situ ego seorang laki-laki sepertimu benar terlihat dan sangat jelas. Kau lebih memilih menentang perasaan mu, memungkiri hal yang aneh didirimu dan mencari pelarian untuk itu. Sementara di lain waktu kau selalu memperhatikan aku, menjadikan aku bahan lelucon mu agar aku mampu berkomunikasi lebih sering terhadapmu, kemudian kau memperhatikan aku di kaca spion depan mu bila aku duduk dibelakang, kau menjodohkan teman mu kepada orang lain karena kau tahu bahwa teman mu menyukai ku, kau cemburu ketika senior mendekati ku, kau membuat gosip yang bertebaran ditengah teman-teman sampai dikalangan dosen agar semua orang tahu dan menjamin bahwa tidak ada yang ingin mendekatiku selain dirimu, serta kau cemburu ketika aku memiliki kebiasaan “jogging” sore dengan sahabat mu, dan lebih parahnya lagi dibalik ekspresi ketidak ikhlasan mu mengantarku pulang bila aku memaksa dan meminta tolong diantarkan pulang dari kampus kekostan ternyata dalam hati mu sungguh amat senang. Dan begitu kecewanya kau bila aku tidak pernah ikut dalam acara-acara have fun yang kau idekan, karena aku lebih memilih untuk tidak ikut, dan masih banyak lagi hal-hal yang membuat ku tidak mampu berkata apa-apa terhadap apa yang kau lakukan”.

Dan itu semua mampu kau sembunyikan tanpa terdeteksi dengan orang lain, sungguh amat rapi kau menyimpan perasaan itu terhadapku. Dan apa? saat ini kau menyesal akan perasaan itu? kau utarakan kenapa aku tidak suka terhadapmu? kenapa aku tidak bisa menerima mu? jawabannya ” karena aku menganggap mu hanyalah sosok teman yang sedang menuju perubahan kebaikan, dan itu yang membuat ku merasakan sepertinya kondisi pertemanan jauh lebih baik dari sekedar hubungan seorang pacar. Dan itu alasan yang mungkin saat ini mampu kuutarakan. Berubahlah untuk menjadi lebih baik, dan terus lah berdoa semoga apa pun hasilnya itulah yang terbaik dari Allah swt”.

Saat ini, perubahan itu telah kurasa tapi aku merasakan sungguh tidak sanggup aku menerimanya. Dulu meminta tolong dengan mu saja aku lebih baik menghindar dan mencari orang lain untuk menggantikan nya, tapi saat ini justru kau yang menyodorkan pertolongan mu sendiri. Dan aku justru yang berpikir untuk menghindar dan lebih memilih untuk mengurus sendiri atau kembali meminta kepada yang lain. Entah apa ini, tapi aku lebih memilih untuk memungkiri takdir bahwa kau menyukai ku lebih dari seorang teman, dan aku memungkiri takdir itu karena aku tidak ingin jatuh diwaktu yang belum tepat. Yaitu di saat ini.

Advertisements