Terkadang tanpa sadar kita mengatakan mencintai seseorang justru kita malah menyakiti orang tersebut. Tidak usah mengambil contoh terlalu rumit, ambil saja kita sebagai anak yang mengaku mencintai kedua orang tua kita terutama “ibu”, tanpa kita sadari kita sering kali menyakiti nya. Melanggar semua aturan dari ibu kita, mengabaikan nasehatnya karena merasa kita telah dewasa dan mampu melakukannya sendiri, kemudian bagi anak rantau yang terlalu memiliki kesibukan yang teramat banyak sering lupa menanyakan bagaimana kabar ibu kita, dan berpikir untuk ibu kita saja yang menghubungi kita. Dan bahkan lebih menyakiti lagi bila suatu saat kita tidak memiliki waktu untuk bercengkrama dengan orang tua kita diusia yang tak lagi muda karena kesibukan kita. *naudzubillahiminzalik*.. Dan tau, setiap ditanya orang kita mengatakan bahwa kita amat mencintai orang tua kita, dan tanpa sadar kita juga menyakitinya.

Tidak sedikit juga dalam beberapa kasus kita mengatakan bahwa kita mencintai seseorang yang kita harapkan untuk menjadi pendamping kita justru tanpa sengaja dan tanpa sadar kita membuatnya sakit hati, membuat dirinya menjadi ragu dan membuatnya tidak nyaman dan mungkin saja akan datang waktunya bahwa orang yang kita cintai itu justru akan meninggalkan kita karena terlalu sering kita sakiti.

Rasa sesal selalu datang belakangan kawan, tidak didepan. Masih ada waktu untuk memperbaiki semua, meminta maaf dan perbaiki semua.. Recovery!!

yap, jadilah seseorang yang mencintai dengan tulus dan berusaha untuk terus membuat orang yang kita cintai dan kita sayangi bahagia bukan sebaliknya..

Ma, Pa.. maafin memi.. 😦 ILOVEYOU.

Untuk seseorang yang merasa dirinya mencintai wanita maupun sedang mencintai pria yang berharap menjadi sosok pendampingnya, cobalah untuk melihat lebih dalam apakah kita sebagai orang yang mencintai lebih sering menyakiti atau sebaliknya. Karena, cinta itu pada dasarnya tidak menyakiti tapi menyayangi. -sekian-

Advertisements