Laki-laki yang kupanggil papa selalu berkata “papa gak punya anak pengecut!”.. perempuan yang kupanggil mama selalu bicara “hidup itu harus banyak sabarnya.” Dan gadis 22 tahun sebut saja SAYA menangis dan berkata kepada mereka berdua “aku lelah..aku penat..aku capek..dan aku rindu”.

Semua terasa menumpuk dan memuncak. Dan ketika tak ada daya upaya dari diriku untuk mengatasinya hanya deraian air mata yang mampu menguatkan.

Kata teman sekolah ku berkata “aku yakin vemi kuat kok disana dengan segala tekanan dan kesulitan disana”.. dan apa yang mampu aku jawab “aku mungkin bukanlah vemi temanmu yang dlu.. ”
Rapuh.. rindu..lelah.. penat..jenuh berada disini! semua begitu menyiksa saat ini..

Aku tak diizinkan papa untuk menangis..tapi aku tak mampu. Air mata ku seakan begitu banyak sehingga mengalir dan tumpah teramat deras.
Aku tak diizinkan mama unuk mengeluh.. tapi aku tak mampu. Penat dan rasa lelah ku begitu meningkat karena semua disini aku menghadapi sendiri. Meski aku sadar..amat sadar bahwa ini adalah keputusan ku mengambil pendidikan  tidak dibawah “ketiak” mereka lagi.. ini resiko!

Berhenti atau istirahat!
Kembali 2 kata kerja itu yang ada dalam  otak ku saat ini.